CADANGAN MIGAS NASIONAL BISA HABIS DI 2030

Cuplikan Kegiatan Seminar Migas Karang Taruna Jawa Timur, SKK Migas, dan JOB PPEJ

Surabaya – Cadangan minyak dan gas nasional disebut oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hanya tersisa hingga tahun 2030. Hitungan ini berdasar asumsi produksi di angka 800.000 barel per hari, tanpa ada temuan cadangan Migas baru.

Kalimat di atas adalah cuplikan materi yang disampaikan oleh Didik Sasono Setyadi, SH, Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, pada Seminar Migas yang dilaksanakan oleh Karang Taruna Jawa Timur. Kegiatan yang merupakan kerja bareng dengan SKK Migas dan Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ) itu berlangsung di Rumah Makan Agis, 13 April 2018.

“Memang benar opini yang berkembang bahwa di 2030 cadangan Migas kita habis, itu kalau tidak ditemukan cadangan baru. Industri sektor migas investasinya besar, dan teknologinya juga tinggi. Presiden Jokowi bersama kami terus berupaya meyakinkan investor agar berinvestasi di sektor Migas. Perijinan terus kami evaluasi agar semakin mudah dan cepat, karena itulah salah satu keluhan investor” urai Didik, alumnus Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya itu.

SKK Migas dibentuk melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 9 Tahun 2013, tentang  Penyelenggaraan dan Pengelolaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. SKK Migas bertugas melaksanakan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas berdasarkan Kontrak Kerja Sama. SKK Migas memastikan bahwa pengambilan sumber daya alam minyak dan gas dapat memberikan manfaat dan penerimaan yang maksimal bagi negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Agus Maimun, SE, MHP, pembicara lainnya yang juga anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, mengungkap. “Menolak kehadiran perusahaan Migas tidak dimungkinkan, karena ini kepentingan strategis nasional. Untuk itu, memastikan kehadiran mereka juga bisa membawa manfaat bagi masyarakat sekitar tambang juga harus kita lakukan. Karang Taruna harus bekerja keras ikut berpartisipasi”, ujar Agus, Tokoh Pemuda yang juga Ketua Forum Pengurus Karang Taruna Jawa Timur itu.

Felix Soesanto, MBA, menyampaikan beberapa pengalamannya sebagai pengusaha. “Perusahaan Migas, baik nasional maupun asing itu berteknologi tinggi. Masyarakat sekitar, khususnya pemuda juga harus bertahap belajar teknologi itu. Ke depan, bisa dibangun rintisan usaha pemuda berbasis teknologi yang bermitra dengan perusahaan Migas.” ungkap Felix, yang menamatkan pendidikan tingginya di Amerika Serikat tersebut.

Kegiatan Seminar yang berlangsung hingga sore hari tersebut mendapat sambutan yang luar biasa dari peserta. “Peserta datang dari seluruh penjuru Jawa Timur. Temanya bagus, dan Pembicara sangat ahli dibidangnya. Banyak pertanyaan berbobot dari peserta, dan wawasan baru tentu diserap. Banyak data dan fakta yang tersaji, mampu mengikis pemahaman keliru atau hoaks tentang kondisi Migas Nasional belakangan ini” urai Yodi Qoirawan, Ketua Panitia yang juga Wakil Ketua Forum Pengurus Karang Taruna Jawa Timur. (JSN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *